Sabtu, 16 Mei 2020

MENYIKAPI HIDUP DITENGAH PANDEMI COVID 19

MENYIKAPI HIDUP 
DITENGAH PANDEMI COVID 19

Oleh: Makrifatul Ulwiyah
PAI NON-PNS Kec. Berbek 

Corona virus atau covid 19 sebutan yang saat ini sudah tidak asing lagi untuk didengar,, bahkan banyak yang beranggapan kalau corona adalah sesuatu yang menakutkan dan berakibat fatal ketika seseorang dinyatakan positif mengidapnya setelah menjalani beberapa tes.
Ketika membaca sebuah berita ada yang menyatakan bahwaCorona akan berakhir sebelum Ramadhan.’’ .. dalam hati, aku mengatakan, Amin Yaa Allah… Semoga benar demikian.”
Tapi saat ini Ramadan sudah hampir berakhir dan corona belum juga berakhir. Bahkan, diprediksi oleh sejumlah pakar, puncaknya saja belum lewat. Pemerintah pun terus berusaha menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan juga melarang untuk mudik. 
Dalam pandangan Islam, tidak ada sehelai daun gugur pun yang tidak berada dalam pengetahuan Allah. Semua yang ada di bumi dan segala isinya merupakan makhluk yang tidak saja diciptakan oleh Sang Khalik, tapi juga semuanya bertasbih memuji-Nya, sebagaimana terdapat dalam QS. Al Isro, ayat 44
 تُسَببِّحُ لَهُ السَّمواتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّ وَ اِ نْ مِّنْ شَيْئٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلكِنْ لاَّ تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ
 اِ نَّه كَا  نَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا  
Artnya: Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada didalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatupun melainkan bertasbihdengan memujiNya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.
Tidak ada penyakit kecuali Allah telah sediakan penawarnya.
 مَااَنْزَلَ اللّهُ دَاءً اِلَّا اَنْزَلَ لَه شِفَأءً
Artinya: Allah tidak akan menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan penawarnya.
 Pada saat yang sama, tidak ada yang sia-sia dari penciptaan Allah, seperti yang dijelaskan dalam Q.S Ali Imron: 191 
 ……رَبَّنَا مَا خَلَققْتَ هذَ ا بَاطِلًا
Artinya: ….Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia, termasuk makhluk kecil bernama Covid-19 ini.
Akibat menyebarnya corona virus ini ke penjuru dunia, hidup kita seolah menjadi berantakan. Dunia diprediksi mengalami resesi ekonomi. Tidak ada satu hari berlalu tanpa membicarakan corona virus. Semua aspek kehidupan kita terkena dampaknya. Kita seolah terpenjara di dalam rumah dan batas negara kita sendiri. Kita memasuki era peradaban tanpa tatap muka. Seolah semua kepandaian dan kemakmuran peradaban dunia menjadi kacau balau akibat korona.
Adanya pernyataan yang mengatakan bahwa Corona akan berakhir sebelum Ramadan bila direnungkan secara mendalam bisa diartikan sebagai sebuah teguran halus nan lembut yang mengatakanAkhiri fokus dirimu pada corona, bulan suci telah datang, terimalah corona sebagai bagian hidupmu, mari beralih dan fokus kepada-Nya, Dzat Yng Menguasai alam semesta”
Imam Ar-Razi alam kitab tafsirnya, saat menafsirkan surah Al-Fatihah, menuliskan sejumlah kisah yang menceritakan aspek spiritual dari kalimat Bismillah. Salah satu kisahnya adalah ketika Nabi Musa merasakan sakit di perutnya. Beliau mengadu kepada Allah yang kemudian menyuruhnya mengambil sejenis daun di padang pasir. Nabi Musa mengunyahnya dan sembuh dengan izin Allah. Kemudian Nabi Musa mengalami masalah lagi dengan perutnya, maka Nabi Musa langsung mengunyah kembali dedauan itu, namun sakitnya malah bertambah nyeri.Beliau mengadu: Ya Rabb, waktu kali pertama aku makan, aku langsung sembuh. Tapi, kali kedua tidak hanya nggak sembuh, tapi malah bertambah parah.Allah menjawab: Kali pertama kamu datang mengadu kepada-Ku memohon kesembuhan. Tapi, pada kali kedua kamu langsung saja mengunyahnya tanpa meminta petunjuk dan izin dari-Ku. Tidakkah kamu tahu bahwa dunia ini semuanya adalah racun dan penawarnya hanyalah dengan menyebut nama-Ku?
Pernyataan yang mengatakan korona akan berakhir sebelum Ramadhan, persis seperti teguran kasih sayang Allah SWT kepada Nabi Musa. Segala macam ikhtiar tanpa izin-Nya adalah sebuah kenisbian, bukan kepastian. Jikalau kita tidak bisa menyelesaikan masalah, ubahlah persepsi kita terhadap masalah itu. Kita harus mencoba belajar hidup berdampingan dengan semua makhluk Allah, termasuk virus korona. Mungkin, permintaan kita kepada  Allah bukan lagi untuk mengangkat virus ini, melainkan meminta kepada Allah agar kita bisa hidup damai berdampingan dengan korona, sebagaimana kita hidup bersama dengan sekian banyak penyakit di sekitar kita. Inilah yang sekarang disebut beranjak dari fase denial alias penyangkalan menuju fase acceptance atau penerimaan. Kita menerima kondisi baru ini sebagai sesuatu yang normal (living the new normal). Tapi bagaimanapun, ihtiyar lahiriyah juga harus tetap kita melakukan, sebagai sikap penghambaan kita kepada Dzat Yang Menguasai Alam Semesta. Sebagaimana SOP dari Pemerintah yang antara lain adalah: 
Cici tangan dengan menggunakan sabun/handsanitizer
Pakai masker ketike keluar rumah
Jaga jarak dan hindari kerumunan 
Dan selalu berdoa sebagai perwujudan ihtiyar bathiniyah kita.                                                                                                                
Untuk apa kita menginginkan korona cepat berakhir, jika pada saat yang sama cara hidup kita tidak berubah, kita lebih dekat dan akrab dengan sesama, sementara kita menjauh dari-Nya. Sekarang, dunia kita dibikin terbalik, kita menjauh dari sesama dan dipaksa untuk semakin mendekat memohon belas kasihan-Nya. Korona boleh jadi bukan azab Allah atau tentara Allah, seperti klaim sementara pihak. Korona adalah makhluk Allah, maka kita pun harus mempersiapkan diri dan kehidupan kita untuk hidup yang baru bersama korona.
Yang harus kita akhiri adalah persepsi materialistik kita akan korona. Menghitung kerugian dan dampak korona hanya dalam balutan angka dan data. Kita akhirnya lupa menerima fakta bahwa korona telah beberapa bulan bersama kita. Menerima korona dalam hidup kita tidak berarti kita melanggar semua pantangan dokter dan aturan pemerintah dan melepaskan kembali ego diri kita dalam beribadah dan berinteraksi. Hidup baru bersama corona virus justru membuat hidup kita semakin bersih, lingkungan semakin dijaga, dan kita harus semakin kreatif menciptakan peluang kerja dan pola komunikasi.
Penerimaan adalah cara kita bersikap optimistis melanjutkan kehidupan. Alhasil, pemerintah melahirkan kebijakan, dokter mengajari kita keselamatan, dan para kiai sepuh telah mengajari kita cara pandang baru menerima dan hidup bersama korona. Ramadan sudah kita jalani dan hampir usai. Masih belum berakhirkah cara pandang lama kita tentang corona? Wallaahu alam 

Berbek, April 2020
IFA

10 komentar:

  1. Alhamdulillaah, dpt ilmu baru, belajr unt berani hidup dlm situasi apapun

    BalasHapus
  2. Sae bunyai...
    Alhamdulillah nambah ilmu

    BalasHapus
  3. Usaha syar'i nya harus tetap mengikuti protokkoller kesehatan yg di himbaukan...usaha kaekatnya tetep perbanyak do'a banyak dzikir spy nadai covids segera berlalu

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah nambah ilmu, kita bisa mengambil pelajaran dari kisah Nabi Musa, Selalu berusaha tetapi jangan sampai melupakan Allah SWT.

    BalasHapus
  5. Ditengah keterpurukan Wabah COVID-19 ini sersas kehidupan beragama dan sosial memang benar-benar sangat mengguncang...tp dengan selalu mengedepankan rasionalis-agamis-sosialis inilah yg menjadi pijakan kita untuk melawan wabah tersebut....bagus Bu Ifa....👍

    BalasHapus

Adap membaca Al quran

Adab Membaca Al-Qur'an Al-Qur'an merupakan kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW lewat perantara malaikat Jibril seba...