Minggu, 23 Agustus 2020

Adap membaca Al quran

Adab Membaca Al-Qur'an

Al-Qur'an merupakan kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW lewat perantara malaikat Jibril sebagai petunjuk bagi umat manusia selama di dunia. Dan bagi orang-orang yang membaca, mempelajari serta mengamalkan apa yang terkandung dalam Al-Qur'an akan mendapatkan pahala yang akan dipanen kelak ketika di akhirat.
Rasulullah saw bersabda, "Bacalah Al-Quran, sesungguhnya ia akan datang di hari kiamat memberi syafaat kepada para pembacanya." (HR. Imam Muslim).
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda,
Al-Qur'an akan datang pada hari kiamat, lalu dia berkata, Ya Allah, berikan dia perhiasan. Lalu Allah berikan seorang hafiz Al-Qur'an mahkota kemuliaan. Al-Qur'an meminta lagi, Ya Allah, tambahkan untuknya. Lalu dia diberi pakaian perhiasan kemuliaan. Kemudian dia minta lagi, Ya Allah, ridai dia. Allah pun meridainya. Lalu dikatakan kepada hafiz Al-Quran, Bacalah dan naiklah, akan ditambahkan untukmu pahala dari setiap ayat yang kamu baca." (HR. Turmudzi 3164 dan beliau menilai Hasan shahih).
Oleh karena Al-Qur'an bukanlah sebuah benda yang sembarangan, maka sudah seyogyanya untuk kita memperlakukan Al-Quran dengan cara yang arif. Begitu pula saat kita membacanya, maka harus memperhatikan adab yang berlaku dan tidak boleh asal-asalan. 
Imam Nawawi dalam kitab “At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur'an” menyebutkan ada 10 adab yang mesti diperhatikan bagi seseorang yang sedang membaca Al-Quran:
Sebaiknya bersihkan dahulu mulut kita dengan menggunakan siwak atau menggosok gigi. Salah satu tujuannya adalah untuk memberikan bau harum dari mulut kita, ketika kita membaca Al Quran, sehingga tidak akan mengganggu orang-orang yang ada di dekat kita.
Biasakan berwudu dahulu sebelum menyentuh dan membaca Al-Qur'an. 
Dikarenakan Al Quran adalah sebuah kalam suci Ilahi yang diberikan kepada kekasihnya yakni Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril, maka sudah seyogyanya untuk sesuatu yang suci harus diawali dengan kesucian pula.
Menghadap kiblat sebagaimana kita sedang melaksanakan salat. 
Sebagai simbul ibadah kepada Allah SWT. 
Mengawalinya dengan kalimat taawuz (a'udzubillahi minasyaitonirrajim). 
Perwujudan minta perlindungan kepada Allah SWT dari setiap godaan syetan yang ada di sekitar kita.
Membaca basmalah di setiap awal surah, kecuali pada surah At-Taubah. 
Sebagai perwujudan rasa syukur kita kepada Allah SWT atas setiap nikmat yang telah kita terima.
Bacalah dengan khusyuk dan di tempat yang bersih. 
Karena Alqur an sebuah kalam suci maka untuk meletakkan pun sebaiknya juga ditempat yang suci. 

Menangislah apabila bertemu dengan ayat-ayat yang menceritakan adzab. 
Sebagai bahan perenungan akan siksa/adzab ketika seorang hamba melakukan dosa.

Bacalah dengan tenang dan tidak terburu-buru. 
Sebab setiap sesuatu yang dikerjakan dengan tenang nantinya akan mendapatkan hasil yang menyenangkan. Pun dengan membaca Al qur an, ketika seseorang mampu membaca Al Quran dengan tartil dan fashih (tenang), maka orang-orang yang mendengarkan juga akan merasa senang dengan bacaan tersebut dan kedamaian juga bisa dirasakan. Sebaliknya ketika seseorang membaca Al Quran dengan nada terburu-buru, maka didengarpun tidak terasa nyaman, belum lagi dengan makhorijul huruf dan tajwidnya  yang tidak bisa tertata dengan benar. Maka ketika kita membaca Al quran, sudah seharusnya dengan perasaan tenang sekaligus menerapkan makhorijul huruf dan tajwidnya, tidak dengan perasaan terburu-buru, sebab terburu-buru adalah termasuk pekerjaan syetan. 
Baca dengan irama yang indah. 
Yang membuat orang merasa senang dan tertarik untuk mendengarkan alunan ayat-ayat suci Al quran, salah satunya adalah ketika qori (orang yang membaca Al quran) mengalunkannya dengan irama yang indah tapi tanpa menghilangkan tajwid dan makhroj yang benar.
Mohonlah karunia saat membaca ayat yang dikaitkan dengan rahmat. 
Sebagai wujud penghambaan kepada Allah SWT bahwa seorang hamba benar-benar membutuhkan rahmat (kawelasan) dariNya.
Dari uraian diatas, semoga bisa menambah ilmu dan wawasan kita semua akan pentingnya ber-adab ketika kita membaca Al Quran. Adap merupakan keniscayaan dalam kehidupan. Sebab siapapun kita, orang akan menghargai kita karena kita memiliki adap/ etika/ sopan santun/ tata krama. Dan sekarang, marilah kita introspeksi diri kita, sudahkah, ketika kita membaca Al Quran, sesuai dengan apa yang telah di sampaikan oleh Imam nawawi diatas, dengan menggunakan 10 adap/ tata karma ??? Bila belum, marilah bersama-sama kita perlakukan Al Quran dengan sebaik-baiknya,  agar kelak di hari kiamat kita  bisa mendapatkan  syafaat dariNya. Amiin.
Wallahu a'lam.

Minggu, 19 Juli 2020

Menggapai hubb Allah SWT lewat Al qur'an

MENGGAPAI HUBB ALLAH SWT LEWAT AL-QURAN
Oleh: Makrifatul-ulwiyah (PAI Non PNS Kec. Berbek)

Diantara sebab yang bisa mendatangkan kecintaan Allah kepada seorang hamba adalah membaca al Qur`an dengan khusyu dan berusaha memahaminya. Sehingga tidak mengherankan, apabila kedekatan dengan al Qur`an merupakan perwujudan ibadah yang bisa mendatangkan cinta Allah. Para salafush-shalih, ketika membaca al Qur`an, mereka sangat menghayati makna ini. Sehingga ketika membaca al Qur`an, seolah-olah seperti seorang perantau yang sedang membaca sebuah surat dari kekasihnya. 
Ibnu Shalah berkata,Membaca al Qur`an merupakan sebuah kemuliaan yang Allah berikan kepada hambaNya. Dan terdapat dalam riwayat, bahwa para malaikat tidak mendapat kemuliaan ini, tetapi mereka sangat antusias untuk mendengarkannya dari manusia. Kemuliaan ini akan lebih sempurna apabila disertai keikhlasan. Karena ikhlas -sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Nawawi- merupakan kewajiban utama bagi pembaca al Qur`an. Dan seharusnya ia menyadari, bahwa dirinya sedang bermunajat kepada Allah. 
Allah telah memberikan izin kepada kita untuk bermunajat kepadaNya. Dengan demikian, berarti Allah telah memberikan rahasia cintaNya kepada kita. Dan al Qur`an, merupakan bukti kecintaanNya. Karena al Qur`an memberikan petunjuk tentang Allah dan yang dicintaiNya. Maka, tentu cinta kepadaNya merupakan jalan hati dan akal untuk mengetahui sifat-sifat Allah dan hal-hal yang dicintaiNya. Melalui al Qur`an, kita bisa mengetahui nama-namaNya, apa yang layak dan yang tidak layak bagiNya, serta (mengetahui) secara rinci syariat yang diperintahkan dan yang dilarang Allah, dan mengantarkan seseorang menuju cinta dan ridhaNya.
 Abdullah bin Masud berkata,Barangsiapa yang mencintai al Qur`an, maka ia akan cinta kepada Allah dan RasulNya.  Bukti terbesar cinta kepada al Qur`an, yaitu seseorang berusaha untuk mehamami, merenungi dan memikirkan makna-maknanya. Sebaliknya, bukti kelemahan cinta kepada al Qur`an atau tidak cinta sama sekali, yaitu berpaling tidak merenungi maknanya. Allah SWT mencela orang munafik, karena tidak merenungi al Qur`an. 
Mentadabburi al Qur`an dapat mengobati berbagai macam penyakit hati, membersihkannya dari kotoran, serta dapat memberikan jawaban dan bantahan terhadap perkara syubhat yang dibawa oleh setan, manusia, dan jin. Berbeda dengan orang munafik, karena mereka enggan merenungi al Qur`an dan tidak mencari petunjuk darinya, maka hati mereka sakit, penuh penyakit syubhat dan syahwat, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al Baqoroh ayat 10
   فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ بِمَاكَانُوْا يَكْذِبُوْنَ
Artinya: “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit itu; dan bagi mereka siksa yang pedih disebabkan mereka berdusta”. (QS. al Baqarah: 10).
 Jadi, ketika Allah SWT mengajak manusia untuk mentadabburi al Qur`an, pada hakikatnya Allah SWT mengajak untuk mengobati hati kita dari berbagai macam penyakit yang membahayakan. 
Kemuliaan lain yang dimiliki oleh orang yang mentadaburi al Qur`an yaitu, kebaikan yang dijanjikan oleh Rasululah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan dari jalan sahabat Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu, beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْانْ وَعَلَّمَهُ
Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al Qur`an dan mengajarkanya”. 
Seseorang yang membaca al Qur`an, hendaknya berusaha untuk memahami setiap ayat yang ia baca. Karena dengan merenungi dan memahaminya, serta mengulanginya, seseorang akan bisa merasakan nikmatnya al Qur`an. 
Al Qur`an akan mengangkat derajat seseorang di sisi Allah. Orang yang menjaganya, berarti ia telah membawa panji agama Islam, sebagaimana dikatakan oleh al Fudhail bin Iyad : Hamilul Qur`an adalah pembawa panji Islam. Tidak layak baginya untuk lalai bersama orang yang lalai, lupa bersama orang yang lupa, sebagai wujud mengagungkan Allah. Orang yang menjunjung tinggi al Qur`an, maka dialah yang berhak mendapatkan kemuliaan membawa panji Islam. 
Rasulullah juga memberitahukan tentang ketinggian derajat Ahlul Qur`an. Beliau Rasul SAW bersabda:
اِنَّ اللّهَ يَرْفَعُ بِهذَاالْكِتَابِ اَقْوَامًاوَيَضَعُ بِهِ اخَرِيْنَ
 Artinya: “Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat beberapa kaum dengan kitab (al Qur`an) ini dan menghinakan yang lain. 
Oleh karena itu, merupakan keharusan bagi orang yang membaca al Qur`an untuk tidak seperti orang kebanyakan. Abdullah bin Masud berkata,Hamilul Qur`an itu mestinya dikenal dengan malamnya saat manusia lain sedang tidur. Dikenal siangnya dengan berpuasa, saat manusia tidak puasa. Dikenal dengan kesedihannya ketika manusia senang, dengan tangisnya ketika manusia tertawa, dengan diamnya ketika manusia berbicara, dan dengan khusyunya ketika manusia dalam keadaan sombong. Demikian ini merupakan sifat mulia yang harus dimiliki oleh Hamilul Qur`an. 
Sedangkan orang yang mencintai al Qur`an, hendaknya tidak membanggakan diri, tertipu dan sombong kepada orang lain dengan kemuliaan yang Allah limpahkan kepadanya. Allah berfirman : Katakanlah : Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karuniaNya kepada siapa yang dikehendakiNya; dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui. (QS.Ali Imran: 73). Ibnul Jauzi berkata,Seseorang hendaknya tidak membanggakan kemampuan dan kekuatan dirinya. Hendaknya tidak memandang dirinya dengan perasaan puas dan menganggap dirinya bersih. Orang yang memandang dirinya penuh kekurangan, akan mengantarkannya semakin dekat denganNya.  Merasa kurang, bukan berarti kemudian tidak menyadari nikmat Allah atau tidak boleh menceritakan nikmat itu, karena sebagai wujud rasa syukur. Hamilul Qur`an (penghapal) berada dalam kenikmatan yang tiada bandingannya, jika dia mengamalkannya. 
Al Qur`an merupakan mukjizat terbesar, karena ia senantiasa eksis dengan keberadaan dakwah Islam. Dan juga, karena Rasulullah merupakan penutup para nabi dan rasul. Jadi, hujjah al Qur`an akan senantiasa ada di setiap zaman dan waktu, karena al Qur`an merupakan kalamullah dan kitabNya yang paling mulia. Maka, orang yang dianugerahi al Qur`an hendaknya memandang, bahwa Allah Azza wa Jalla telah memberikan nikmat yang agung kepadanya. Hendaknya dia menyadari dengan perbuatannya, bahwa al Qur`an akan membelanya, dan bukan justru menuntutnya.  Sebagaimana juga, ia harus memanfaatkan dengan sebaik-baiknya kenikmatan yang telah diberikan Allah kepadanya, mengumpulkan dalam dirinya yang dapat menyebabkan hati menjadi hidup. 
Lalu, bagaimanakah cara memaksimalkan dalam mengambil pelajaran dari al Qur`an? Ibnul Qayyim menjelaskan dalam kitabnya, al Fawaid, menyatakan : Apabila engkau hendak mengambil pelajaran dari al Qur`an, maka konsentrasikanlah hatimu ketika membaca dan mendengarnya, pasanglah telingamu. Jadikanlah dirimu seperti orang yang diajak bicara langsung oleh Dzat yang mengucapkannya, yaitu AllahSWT, karena al Qur`an merupakan khitab (pembicaraan) yang ditujukan Allah kepadamu melalui lisan RasulullahSAW. Allah SWT berfirman dalam QS. Qaaf ayat 37:
اِنَّ فِيْ ذلِكَ لَذِكْرى لِمَنْ كَانَ لَه قَلْبٌ اَوْاَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهْيْدٌ
Artinya:  “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya”. 
Karena pengaruh al Qur`an sepenuhnya tergantung dari yang memberi pengaruh, tempat yang bisa menerima pengaruh, terpenuhi syarat-syaratnya, dan tidak ada yang menghalangi.
Ibnul Qayyim r.a dalam Zaadul Maad berkata,Sebagian salafush shalih mengatakan, sesungguhnya al Qur`an turun supaya diamalkan. Maka jadikanlah membaca al Qur`an sebagai wujud pengamalannya. Oleh karena itu, Ahlul Qur`an adalah orang yang memahami al Qur`an dan mengamalkan yang terkandung di dalamnya, walaupun ia tidak menghafalkannya. Sedangkan orang yang menghafalnya namun tidak memahaminya, serta tidak mengamalkan kandungannya, maka dia bukan Ahlul Qur`an, meskipun dia mendudukkan huruf-hurufnya sebagaimana mendudukan busur panahnya (artinya, sangat perhatian terhadap huruf-hurufnya). Oleh karena itu apabila seseorang ingin mendapatkan kecintaan dari Allah, maka hendaklah ia memiliki perhatian yang besar kepada al Qur`an, berusaha membacanya, merenugi dan mengamalkanya. Jika kita sudah bertekad untuk mengambil pelajaran darinya. 
Semoga Allah menjadikan kita termasuk Hamilul Qur`an yang memiliki ikatan kokoh dengannya, dan selalu menjadikan al Qur`an sebagai pedoman dan penawar penyakit hati. AAmiin Wallahu alam

Selasa, 23 Juni 2020

PERSPEKTIF ISLAM TENTANG NEW NORMAL

PERSPEKTIF ISLAM TENTANG NEW NORMAL 
 

Oleh: Makrifatul Ulwiyah
PAI Non PNS Kec. Berbek

Sejarah timbul tenggelamnya wabah di masa umat Islam sangat banyak menghiasi khazanah keilmuan. Literasi penemuan vaksin oleh ilmuwan muslim pun sebenarnya sudah dicetuskan jauh sebelum peradaban kapitalis muncul. Ar Razi atau di dunia Barat dikenal dengan nama Rhazes menemukan metode vaksinasi pertama dan bahkan meletakkan dasar teori imunitas bawaan. Buku Ar Razi yang berjudul Al Judari wal Hasbah (cacar dan campak) mengemukakan pembahasan mengenai patologis medis pada penyakit menular dan berbagai pembuktian eksperimennya. 
Kekayaan pengalaman dan kesuksesan umat Islam mengentaskan epidemi bukanlah peristiwa baru yang patut diragukan. Kehadiran ajaran Islam dan khazanah medisnya telah membuktikan tangguhnya sebuah paradigma yang dimiliki umat Islam. Dalam anjuran bersuci untuk menghilangkan najis dan hadats misalnya, Islam memiliki perincian aturan yang perlu diperhatikan. Puncak paradigma ini juga dibangun oleh aturan lain dalam berekonomi dan menerapkan gaya hidup sehat ala kepemimpinan Nabi.
Apabila dalam protokol terkecil seperti kebiasaan menjaga diri dari hal yang kotor, berwudhu atau mandi bersih,  tidak sembarang bersentuhan dengan orang lain, dan menjaga jarak interaksi sudah terbiasa diterapkan, maka untuk merevolusi paradigma hidup di era New Normal bukanlah hal yang sulit. Jika aturannya sekadar mempraktiskan pola hidup sehat dengan makan makanan bergizi nan menyehatkan tentu mudah dilakukan. Rajin berolah raga dan menjaga stamina daya tahan tubuh bukanlah hal yang sukar. Tantangannya, mampukah kita merevolusi paradigma New Normal dalam tataran konsep dan strategi konkrit?
Kita bisa mulai dari menginstal ulang bangunan negaraan yang aman dari virus sehingga bersih sistemnya dan sehat ekonominya. Perubahan pada semua bidang pasca pandemi harus lekas digalakkan, pastinya di atas paradigma New Normal yang terbukti sukses mengentaskan wabah. Oleh karena itu sudut pandang Islam ketika memasuki era New Normal berhasil mengatur kehidupan masyarakat dengan tegas dan tuntas, mulai dari mitigasi hingga pengaturan berskala besar.
Selain itu kesehatan publik tidak bisa dijadikan uji coba sehingga alternatif memasuki era New Normal sungguh bukanlah solusi yang tepat. Kondisi normal baru ala Satgas Covid-19 memang bisa saja ditempuh apabila Indonesia siap menjamin imunitas masyarakatnya selamat dari serangan virus. Namun selama tidak ada kesiapan sementara kondisi Indonesia masih belum normal maka solusi New Normal hanyalah solusi bunuh diri massal. Lepas dari satu jeratan, masuk pada jeratan lainnya sampai muncul gelombang transmisi baru yang tak terbendung.
Padahal untuk mengendalikan pandemi dibutuhkan paradigma lain daripada yang lain. Tidak cukup sekadar menginstruksikan diam di rumah, tidak mudik atau tidak melakukan perjalanan ke wilayah pandemi tetapi sabuk pengamannya malah longgar. Maka, kemandirian sebuah negara harusnya dibangun untuk melawan dan membasmi CoVid-19 ini dengan disiplin ketat
Kemudian kita harus berani merevolusi paradigma Islam dalam meninjau problematika pandemi. Secepatnya memberikan penjaminan sandang pangan bagi kebutuhan primer rakyat agar tak ada alasan bagi mereka melanggar PSBB. Selanjutnya kita harus fokus menghadapi corona dengan mengadaptasi paradigma Islam dalam mengentaskan wabah. Solusi jangka pendek maupun jangka panjang ini nantinya akan menghentikan arus penularan dari manusia ke manusia.
Terakhir, negara punya kewenangan mengubah mindset masyarakat mengenai pentingnya kesadaran hidup bersih dan sehat. Sembari memaksimalkan peluang untuk memetakan solusi yang pas memasuki era New Normal. Selanjutnya akan tumbuh kesehatan masyarakat global diikuti berkembangnya stabilitas ekonomi di atas kemandirian sistem politiknya. Wallaoohu a’lam bishshowaab…

Berbek, Juni 2020

Selasa, 02 Juni 2020

COVID 19 DAN PARADOKS ISLAM

COVID 19 DAN PARADOKS ISLAM 


PENGERTIAN PARADOKS

Paradoks adalah suatu situasi yang timbul dari sejumlah premis (apa yang dianggap benar sbagai landasan kesimpulan, dasar pemikiran, alasan, asumsi, kalimat atau proposisi yang dijadikan dasar penarikan kesimpulan di dalam logika yang diakui kebenarannya yang betolak dari suatu pernyataan yang menuju ke sebuah kontradiksi atau sebuah situasi yang berlawanan dengan intuisi (kemampuan memahami sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan intelektualitas) atau dalam pengertian yang lain paradoks adalah situasi pernyataan benar dan salah pada saat bersamaan. 


PEMBAHASAN

       Di tengah hantaman pandemi COVID-19, agama tampil dengan dua wajah yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, karena sifat agama yang tak terpisahkan dari ikatan komunitas dan tindakan berkerumun, di tengah wabah kegiatan keagamaan kerap menjadi medium penularan penyakit. Doktrin teologis yang kaku juga kerap mendorong penganut agama untuk bertabrakan dengan prinsip-prinsip medis. Agama pun menjadi bagian dari masalah. Di sisi lain, ketika beragam tekanan mengimpit dari segala penjuru dan kematian datang mengendap-endap amat dekat, agama meringankan beban para pemeluknya. Lewat doktrin, ritual dan dukungan komunitas, agama menyediakan sumber motivasi dan harapan. Ia menjadi bagian dari solusi. 

Di tengah wabah ini mayoritas pemimpin, lembaga dan komunitas agama di seluruh dunia mengikuti anjuran dan pedoman medis yang dikeluarkan oleh WHO dengan menghimbau umat untuk tinggal di rumah dan mempraktekkan social distancing. Paradoks agama dalam pandemi ini terlihat lebih kompleks oleh jalinan macam-macam faktor: ekonomi, politik, struktur sosial, dan tradisi budaya.

Kompleksitas ini misalnya muncul tegas dalam fenomena mudik lebaran. Pada fenomena Lebaran dan mudik di tengah wabah, agama merupakan bagian dari masalah dan juga solusi.


Paradoks dalam Islam ketika wabah

Dengan mengikuti catatan ahli agama dari AS Michael Dols, mengatakan bahwa ada dua wajah paradoks umat Islam dalam menghadapi wabah yang  sudah terlihat sejak abad pertengahan.

Wajah pertama memahami wabah sebagai ketentuan teologis, takdir yang tak bisa ditolak. Umat Islam harus memperbanyak doa, amal, bertobat, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Wajah kedua memahami wabah sebagai kenyataan empiris yang menuntut ikhtiar untuk mengatasinya. Sambil mendekatkan diri kepada Tuhan, umat Islam wajib melakukan upaya maksimal untuk mencari keselamatan. Dari sinilah lahir sosok seperti Ibnu Sina yang masyhur yang memiliki keahlian dalam penanggulangan wabah. Sebagai insan, ikhtiar harus terus dilakukan, tapi takdir tetap yang menentukan.. Sikap orang Islam hari ini dalam menghadapi wabah tak bisa dipisahkan dari memori kolektif yang mereka warisi dalam bentuk dua wajah/pemahaman tersebut.

Wajah yang lebih adaptif

Di depan krisis akibat wabah, dua wajah paradoks agama memang muncul lebih tegas. Betapapun, akhirnya versi yang lebih adaptif terhadap perubahan akan memiliki daya tahan lebih besar. Dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang makin menjadi paradigma kehidupan sehari-hari, wajah agama yang lebih adaptif terhadap keduanyalah yang akan diikuti banyak orang. COVID-19 telah memaksa banyak aspek kehidupan berubah secara radikal, termasuk kehidupan beragama. Sebagai guncangan hebat, krisis ini bisa dilihat sebagai momentum transformasi. Dalam kehidupan beragama, ia bisa menjadi peluang untuk reformasi dan mempromosikan doktrin yang lebih terbuka, membantu berbagai lembaga menjadi responsif dan komunitas yang lebih adaptif terhadap tuntutan alam modern. Dengan begitu, agama tetap relevan sebagai pedoman moral dan orientasi makna bagi para pemeluknya sehingga mereka pun bisa terus berkontribusi dan memainkan peran sentral di tengah pusaran perubahan zaman yang sering terlihat membingungkan. Terlebih di tengah wabah saat ini.

Paradoks Islam ketika Lebaran

Meski dilarang, akhirnya jutaan orang tetap nekat mudik lebaran. Kasus COVID-19 pasca lebaran pun diperkirakan naik, terutama di Jawa. Eksodus jutaan manusia dari ibu kota Jakarta sebagai wilayah paling merah ke berbagai pelosok, berdesakan di tempat dan kendaraan umum, lalu sesampai di rumah melepas rindu bersama keluarga, tetangga dan handai-taulan, belanja di pasar-pasar dan melakukan mobilitas intensif, membuat mudik menjadi peristiwa penyebaran virus yang amat sempurna. Bagi banyak perantau Muslim, bertahan di Jakarta tanpa bekerja, jauh dari keluarga pada saat lebaran sebagai momen agama-budaya terpenting sepanjang tahun memberikan tekanan ekonomi, psikologis, sosiologis, bahkan teologis yang amat berat. Jika momentum setahun sekali untuk menghapus salah, melebur dosa dan silaturrahmi gembira bersama sanak-keluarga sebagai peluang menaruh beban sementara itu tak ada, bagaimana mereka akan memperoleh kekuatan baru untuk menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota di hari-hari selanjutnya? Apalagi dalam masa ketidakpastian seperti sekarang ini. Itulah sebabnya, meski dilarang, sebagian orang nekad mencuri-curi pulang kampung dan menempuh segala risiko. Bukankah ratusan nyawa juga selalu melayang akibat kecelakaan di jalan ketika mudik? Orang-orang yang nekat mudik ini mungkin menggunakan keyakinan teologis yang banyak ditemui di berbagai komunitas agama yaitu wabah adalah azab bagi orang kafir dan karenanya kaum beriman selalu dilindungi Tuhan. Di Indonesia sebagian Muslim sempat percaya bahwa air wudu bisa mencegah coronavirus.

Di sisi lain, dalam ketidakpastian krisis, agama menjadi sumber kekuatan batin dan memberi orientasi makna serta mendorong pengikutnya supaya berikhtiar maksimal menghindari wabah.
Islam, mengajarkan bahwa perjuangan menyelamatkan nyawa seperti dilakukan para tenaga medis adalah jihad dan mereka yang meninggal karena wabah dianggap mati syahid, sesuai hadis Nabi.
Selain itu, lembaga, pemuka dan komunitas agama Islam punya peran sangat besar dalam penanggulangan wabah ini. Berkat imbauan efektif Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia, dan organisasi Islam lainnya, mayoritas umat Islam tetap beribadah di rumah, termasuk salat tarawih dan Idul Fitri. Itu adalah bukti keterbukaan agama terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kecilnya persentase pemudik tahun ini mustahil tanpa peran aktif komunitas agama. Banyak aktor, lembaga dan kelompok-kelompok Islam bekerja keras mengumpulkan dana hingga ratusan milyar untuk disumbangkan kepada para korban wabah. Mereka juga giat memobilisasi tenaga medis untuk menolong para pasien COVID-19 di garis depan. 

KESIMPULAN

Ada dua wajah paradoks umat Islam dalam menghadapi wabah, termasuk covid 19 yang  terjadi pada saat ini sebagaimana yng sudah pernah terjadi pada abad pertengahan: 
Wajah pertama memahami wabah sebagai ketentuan teologis, takdir yang tak bisa ditolak. Umat Islam harus memperbanyak doa, amal, bertobat, dan mendekatkan diri kepada Tuhan, Allah SWT.
Wajah kedua memahami wabah sebagai kenyataan empiris yang menuntut ikhtiar untuk mengatasinya. Sambil mendekatkan diri kepada Tuhan, umat Islam wajib melakukan upaya maksimal untuk mencari keselamatan. 

 Islam, mengajarkan bahwa perjuangan menyelamatkan nyawa seperti dilakukan para tenaga medis adalah jihad dan mereka yang meninggal karena wabah dianggap mati syahid, sesuai hadis Nabi. Mudah-mudahan semua ihtiyar kita dalam pandemi covid 19 akan membuahkan hasil sebagaimana harapan kita semua. Aamiin. Wallohu alam.

Sabtu, 16 Mei 2020

MENYIKAPI HIDUP DITENGAH PANDEMI COVID 19

MENYIKAPI HIDUP 
DITENGAH PANDEMI COVID 19

Oleh: Makrifatul Ulwiyah
PAI NON-PNS Kec. Berbek 

Corona virus atau covid 19 sebutan yang saat ini sudah tidak asing lagi untuk didengar,, bahkan banyak yang beranggapan kalau corona adalah sesuatu yang menakutkan dan berakibat fatal ketika seseorang dinyatakan positif mengidapnya setelah menjalani beberapa tes.
Ketika membaca sebuah berita ada yang menyatakan bahwaCorona akan berakhir sebelum Ramadhan.’’ .. dalam hati, aku mengatakan, Amin Yaa Allah… Semoga benar demikian.”
Tapi saat ini Ramadan sudah hampir berakhir dan corona belum juga berakhir. Bahkan, diprediksi oleh sejumlah pakar, puncaknya saja belum lewat. Pemerintah pun terus berusaha menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan juga melarang untuk mudik. 
Dalam pandangan Islam, tidak ada sehelai daun gugur pun yang tidak berada dalam pengetahuan Allah. Semua yang ada di bumi dan segala isinya merupakan makhluk yang tidak saja diciptakan oleh Sang Khalik, tapi juga semuanya bertasbih memuji-Nya, sebagaimana terdapat dalam QS. Al Isro, ayat 44
 تُسَببِّحُ لَهُ السَّمواتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّ وَ اِ نْ مِّنْ شَيْئٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلكِنْ لاَّ تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ
 اِ نَّه كَا  نَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا  
Artnya: Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada didalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatupun melainkan bertasbihdengan memujiNya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.
Tidak ada penyakit kecuali Allah telah sediakan penawarnya.
 مَااَنْزَلَ اللّهُ دَاءً اِلَّا اَنْزَلَ لَه شِفَأءً
Artinya: Allah tidak akan menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan penawarnya.
 Pada saat yang sama, tidak ada yang sia-sia dari penciptaan Allah, seperti yang dijelaskan dalam Q.S Ali Imron: 191 
 ……رَبَّنَا مَا خَلَققْتَ هذَ ا بَاطِلًا
Artinya: ….Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia, termasuk makhluk kecil bernama Covid-19 ini.
Akibat menyebarnya corona virus ini ke penjuru dunia, hidup kita seolah menjadi berantakan. Dunia diprediksi mengalami resesi ekonomi. Tidak ada satu hari berlalu tanpa membicarakan corona virus. Semua aspek kehidupan kita terkena dampaknya. Kita seolah terpenjara di dalam rumah dan batas negara kita sendiri. Kita memasuki era peradaban tanpa tatap muka. Seolah semua kepandaian dan kemakmuran peradaban dunia menjadi kacau balau akibat korona.
Adanya pernyataan yang mengatakan bahwa Corona akan berakhir sebelum Ramadan bila direnungkan secara mendalam bisa diartikan sebagai sebuah teguran halus nan lembut yang mengatakanAkhiri fokus dirimu pada corona, bulan suci telah datang, terimalah corona sebagai bagian hidupmu, mari beralih dan fokus kepada-Nya, Dzat Yng Menguasai alam semesta”
Imam Ar-Razi alam kitab tafsirnya, saat menafsirkan surah Al-Fatihah, menuliskan sejumlah kisah yang menceritakan aspek spiritual dari kalimat Bismillah. Salah satu kisahnya adalah ketika Nabi Musa merasakan sakit di perutnya. Beliau mengadu kepada Allah yang kemudian menyuruhnya mengambil sejenis daun di padang pasir. Nabi Musa mengunyahnya dan sembuh dengan izin Allah. Kemudian Nabi Musa mengalami masalah lagi dengan perutnya, maka Nabi Musa langsung mengunyah kembali dedauan itu, namun sakitnya malah bertambah nyeri.Beliau mengadu: Ya Rabb, waktu kali pertama aku makan, aku langsung sembuh. Tapi, kali kedua tidak hanya nggak sembuh, tapi malah bertambah parah.Allah menjawab: Kali pertama kamu datang mengadu kepada-Ku memohon kesembuhan. Tapi, pada kali kedua kamu langsung saja mengunyahnya tanpa meminta petunjuk dan izin dari-Ku. Tidakkah kamu tahu bahwa dunia ini semuanya adalah racun dan penawarnya hanyalah dengan menyebut nama-Ku?
Pernyataan yang mengatakan korona akan berakhir sebelum Ramadhan, persis seperti teguran kasih sayang Allah SWT kepada Nabi Musa. Segala macam ikhtiar tanpa izin-Nya adalah sebuah kenisbian, bukan kepastian. Jikalau kita tidak bisa menyelesaikan masalah, ubahlah persepsi kita terhadap masalah itu. Kita harus mencoba belajar hidup berdampingan dengan semua makhluk Allah, termasuk virus korona. Mungkin, permintaan kita kepada  Allah bukan lagi untuk mengangkat virus ini, melainkan meminta kepada Allah agar kita bisa hidup damai berdampingan dengan korona, sebagaimana kita hidup bersama dengan sekian banyak penyakit di sekitar kita. Inilah yang sekarang disebut beranjak dari fase denial alias penyangkalan menuju fase acceptance atau penerimaan. Kita menerima kondisi baru ini sebagai sesuatu yang normal (living the new normal). Tapi bagaimanapun, ihtiyar lahiriyah juga harus tetap kita melakukan, sebagai sikap penghambaan kita kepada Dzat Yang Menguasai Alam Semesta. Sebagaimana SOP dari Pemerintah yang antara lain adalah: 
Cici tangan dengan menggunakan sabun/handsanitizer
Pakai masker ketike keluar rumah
Jaga jarak dan hindari kerumunan 
Dan selalu berdoa sebagai perwujudan ihtiyar bathiniyah kita.                                                                                                                
Untuk apa kita menginginkan korona cepat berakhir, jika pada saat yang sama cara hidup kita tidak berubah, kita lebih dekat dan akrab dengan sesama, sementara kita menjauh dari-Nya. Sekarang, dunia kita dibikin terbalik, kita menjauh dari sesama dan dipaksa untuk semakin mendekat memohon belas kasihan-Nya. Korona boleh jadi bukan azab Allah atau tentara Allah, seperti klaim sementara pihak. Korona adalah makhluk Allah, maka kita pun harus mempersiapkan diri dan kehidupan kita untuk hidup yang baru bersama korona.
Yang harus kita akhiri adalah persepsi materialistik kita akan korona. Menghitung kerugian dan dampak korona hanya dalam balutan angka dan data. Kita akhirnya lupa menerima fakta bahwa korona telah beberapa bulan bersama kita. Menerima korona dalam hidup kita tidak berarti kita melanggar semua pantangan dokter dan aturan pemerintah dan melepaskan kembali ego diri kita dalam beribadah dan berinteraksi. Hidup baru bersama corona virus justru membuat hidup kita semakin bersih, lingkungan semakin dijaga, dan kita harus semakin kreatif menciptakan peluang kerja dan pola komunikasi.
Penerimaan adalah cara kita bersikap optimistis melanjutkan kehidupan. Alhasil, pemerintah melahirkan kebijakan, dokter mengajari kita keselamatan, dan para kiai sepuh telah mengajari kita cara pandang baru menerima dan hidup bersama korona. Ramadan sudah kita jalani dan hampir usai. Masih belum berakhirkah cara pandang lama kita tentang corona? Wallaahu alam 

Berbek, April 2020
IFA

Adap membaca Al quran

Adab Membaca Al-Qur'an Al-Qur'an merupakan kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW lewat perantara malaikat Jibril seba...